Setiap orang pasti pernah
merasakan apa yang disebut batas ambang, masa peralihan atau situasi dimana
seseorang merasa bingung terhadap langkah yang harus ditempuh, seperti halnya
saya ketika baru lulus sekolah, atau mungkin dirasakan oleh 10 juta 54 orang
yang baru lulus sekolah menengah keatas diseluruh pelosok Indonesia. Keadaan dimana
kita mulai merasa malu jika selalu minta uang ke orang tua, malu jika hanya
berdiam diri dirumah, kemudian mulai membanding-bandingkan diri kita yang
sekolah dengan mereka yang tidak sekolah tapi sukses, dan ini yang paling
penting, mulai banyak orang yang membicarakan kita atas dasar nyinyir tidak
jelas.
Kondisi semacam ini cukup wajar,
karena sebagian besar kita, tidak betul-betul dipersiapkan untuk menghadapi
masa peralihan dari dunia sekolah ke dunia yang real, yang butuh pemikiran
realistis.
Yang saya rasakan adalah, kita
mulai dihadapkan pada apa yang pernah kita cita-citakan dulu, sewaktu ditanya
oleh guru bahasa indonesia, banyak jawaban yang terlontar dari pertanyaan
tersebut, jawaban yang tanpa beban, tanpa pikiran yang realistis, ada yang mau
jadi polisi, tentara, pilot, PNS, si solihan bahkan pernah menjawab ingin jadi
bidan. Saya dulu pernah punya cita-cita ingin jadi arkeolog. Arkeolog atau
arkeoloh ? Kata pidi baiq lebih baik arkeolog saja, karna jika arkeoloh, kita
bilang piknik itu harus jadi pihnik. Saya ingin jadi arkeolog karena dulu
sangat suka sekali terhadap pelajaran sejarah, semacam ada kepenasaranan yang
luar biasa terhadap apa yang menjadi kisah atau cerita panjang yang
mempengaruhi identitas dan personalitas kita sebagai manusia dimasa sekarang.
Ketika lulus sekolah,
jawaban-jawaban tersebut bagi sebagian orang menjadi terdengar seperti fiksi belaka,
karena realitanya, secara realistis kita tidak punya pilihan sama sekali karena
beberapa keterbatasan. Mungkin dulu kita ataupun saya menganggap bahwa definisi
cita-cita itu hanya semacam angan-angan saja, bebas di sebutkan yang penting
keren.
Saya pernah diskusi santai dengan
beberapa teman yang latar belakangnya hampir sama, disaat mereka sudah lama
sekali lulus sekolah mengenai apa itu
cita-cita. Dan jawabannya memang menjadi seperti ini, cita-cita itu keinginan
sukses yang bergantung pada situasi dan kondisi. Jadi bisa saja cita-cita itu
berubah ubah sesuai dengan situasi dan kondisinya. Dan katanya, cita-cita itu
akan terus meningkat seiring dengan keberhasilan cita-cita sebelumnya. Jadi
mungkin bagi sebahagian orang, boleh jadi kita tidak betul-betul mampu untuk
mewujudkan cita-cita sewaktu ditanya guru bahasa indonesia itu, tapi yakinlah
ada banyak kesempatan, dari situasi dan kondisi yang akan mewujudkan cita-cita
baru.
Pemikiran kedua biasanya mulai
mempertimbangkan untuk bekerja, atau menghasilkan uang daripada hanya sekedar
diam dirumah dan mulai dicap pengangguran. Apalagi yang basicny sekolah
kejuruan yang dipersiapkan untuk menjadi pegawai dengan dibekali keahlian
sesuai jurusannya. Anda mungkin akan sedikit idealis karena merasa punya skill
yang mumpuni, prestasi yang bagus apalagi lulusan SMK favorit.
Menentukan pekerjaan yang hanya
sesuai dengan kriteria kita. Ini mungkin dipandang wajar disekolahan, tapi dek,
ini sungguh kurang wajar di dunia kerja bagi kalian yang hanya lulusan SMK/SMA.
Bagi sebagian orang, apalagi yang belum tau bagaimana ketatnya persaingan dunia
kerja dengan segala dinamikanya termasuk keberadaan calo, khusus untuk calo ini
akan saya tulis khusus nanti jika ingat.
Saya lebih menyarankan bahwa
diawal karir kita dalam bekerja, tidak perlu menentukan pekerjaan yang sesuai
dengan kriteria, apalagi di zaman sekarang yang persaingannya semakin sulit. Mendapat
pekerjaan dan halal, itu sudah cukup untuk awal karir kita. Sebagai contoh saja
bahwa saya anak jurusan komputer ketika sekolah, ketika awal bekerja masuk di
perusahaan Otomotif, dibagian pembuatan velg motor. Ada hubungannya dengan
Jurusan yang dipelajari selama 3 tahun ? Tidak.!
Dan mungkin keputusan paling
konkrit, sebagai puncak dari batas ambang kita adalah pergi merantau. Bisa
dimaklumi karena ketersediaan lapangan pekerjaan yang terbatas di daerah. Untuk
anak yang baru kemarin merasakan di gendong, di cariin orang tua ketika magrib
belum pulang, dimarahin ketika maen PS lupa waktu ngaji, tiba-tiba harus
merantau jauh menentukan nasib sendiri. . Kita bisa bayangkan, ini adalah momen
pertama berpisah dengan keluarga dalam waktu yang lebih lama dari biasanya,
jarak dari kampung halaman yang lebih jauh dari biasanya, dan fikiran yang
lebih berat dari biasanya. Bahkan saya pernah bingung bagaimana caranya nyuci
diperantauan karena selama di kampung tidak pernah nyuci sendiri.
Semua ini pernah dirasakan dan
mungkin akan dirasakan kembali oleh sebagian orang sebagai struktur dan proses
pendewasaan dari kehidupan. Yang terpenting semoga ada hikmah yang selalu kita
petik dari setiap batas, termasuk batas ambang ini.

EmoticonEmoticon