Sabtu, 25 Februari 2023

HARWIPOTAH

 Assalamualaikum profesor Albus Dumbledore, mudah2n prof selalu riang dan banyak uang. Didoain juga semoga sekolah sihirnya semakin berkembang. 

Saya lagi di Bumi, sayangnya. Jauh dari Hogwarts.

Malam ini baru beres telponan prof, jarang2, tapi seneng. Biasanya kerja setengah paksa gitu, mirip romusha mskipun banyak liburnya sih.

 Alhamdulillah memang, dulu hampir tiap malm telponan, kadang vc, kadang maen ML juga. biasalah prof, sarana dakwah.

Malam ini saya mau sdikit curhat dlu, prof. Karena dibilang sering marah, dikit2 marah kadang diem aja dianggap marah. Sampe saya merenung prof, apa yg hrus saya lakukan. 

Dan Kebetulan, dulu kalau marah, biasanya dihadpin dg sabar, tulus. Sebagaimana prof menghadapi murid2 slytherin yg keras kepala itu. Saya tersentuh dg ktulusannya prof. Berbeda dengan skrng yg bisa dibilang jd sama sama keras, gk mau ngalah. Apalagi nenangin prof.

Tapi baiknya saya akhiri dlu prof, sudah malam.jgn panjang2, takut jd mirip siayah.



Minggu, 20 Oktober 2019

PILKADES DI PAKALONGAN


 
      Desa yang kalau disebutkan, selalu divalidasi si penanya dengan kalimat “pakalongan atau pekalongan ?”. Mungkin penanya merasa asing dengan nama desa tersebut, atau jangan-jangan berfikir, sejak kapan kota pekalongan berubah jadi desa.
      Pakalongan adalah 1 dari 351 desa yang ada di kabupaten tasikmalaya, ini merujuk pada situs https://m.nomor.net. Udaranya segar, bentangan sawah luas, sungai masih steril, banyak pesantren, ibu-ibunya masih suka ngegosip, punya lapangan sepakbola dan jalannya masih jelek. Serius !
      Jam 00.30, dimana malam terlalu malam, pagi terlalu pagi. Diwarung bi ida, yang sudah tutup sejak jam 22.00 tadi, Randeta dan seorang temannya duduk di bangku panjang dekat pohon mangga yang sedang menyumplai oksigen dengan seksama. Randeta memainkan gitar, menyanyikan lagu dengan lirik yang asal-asalan :
Sebentar lagi desa punya pemimpin baru
Calon kades sibuk cari dukungan
Pendukung sibuk cari dana tambahan
Warung Mang Ucup tiba-tiba ramai
Bicara cuaca hingga pemecah suara
Jargon-jargon berseliweran
Dari tanjakan sobandi, hingga Facebook pribadi
Inovatif, Kreatif, Tegas, Lugas dan Religus
Lalu bagaimana dengan Ambisius ?

Liriknya pendek,ya karena memang asal-asalan. “Desa kita ko begini-begini aja sih ?” Kata Bram.
Ya karena masyarakatnya begitu-begitu aja.” Jawab Randeta.
Bram itu temannya Randeta, nama aslinya Masta Sujana.Sering dipanggil Bram, biar jadi Bramasta, keren katanya.
Eh gimana kalau calon KADES nanti, ada yang punya ide asal-asalan ?” Randeta tiba-tiba serius bertanya.
Yang kaya gimana?” Tanya Bram.
Ngasal aja gitu, misalnya setiap penduduk desa wajib punya channel youtube, dan warganya wajib saling subscribe.” Kata Randeta sambil menyimpan gitarnya.
Biar apa ?” Bram mulai bingung sedikit penasaran.
Ya tujuan akhirnya adsense, dapet duit, Bram. Jumlah penduduk desa pakalongan itu kalo lihat di https://pakalongan.sideka.id totalnya 4.042 jiwa, 71% atau sekitar 2.869 jiwa berusia antar 15-65 tahun atau berada di usia produktif. Yang 71% ini kan sudah punya HP semua, nah kenapa kita tidak manfaatkan untuk itu. Sistem monetize youtube sejak 20 Februari 2018 harus punya 1.000 subscriber dan jumlah penayangan 4.000 jam selama 12 bulan terakhir. Pasti bisa lah Bram.”
Tapi tidak segampang itu Ren, kan harus punya content ?” Kata Bram.
Randeta menyalakan sebatang rokok, menghisapnya dalam-dalam. Ditengah cuaca dingin desa, yang sudah lama tak diguyur hujan. “Loh gampang aja Bram, bayangin ibu-ibu bikin resep angeun iwung, pistung, seblak, comro, yang bagus suaranya cover lagu, mang yeyen tutorial gitar, melodi, guru ngaji bikin video penjelasan tajwid sampai kitab semacam pesantren online, punya kamera bagus bikin video eksplore pakalongan, yang suka game tinggal record game, suka volly bikin tutorial loncat 2 meter bagi pemula, banyak lah Bram, tinggal upload.”
Yang bisa supranatural bikin video ngamat di pamulang, astana paseh, gedrug hanaru, nanti bersaing dengan jurnalRisa ya”.Kata Bram sambil senyum.
Iya, ngasal aja dulu, besok- besok siapa tau tidak.” Randeta tertawa, geleng-geleng kepala untuk kemudian mengambil gitar dan melanjutkan lagu asal-asalannya :
Hey bapak Kades
Cita cita, berangkatin warganya naik haji
Kades Maksimal...
...


Kamis, 06 Desember 2018

Batas Ambang

Setiap orang pasti pernah merasakan apa yang disebut batas ambang, masa peralihan atau situasi dimana seseorang merasa bingung terhadap langkah yang harus ditempuh, seperti halnya saya ketika baru lulus sekolah, atau mungkin dirasakan oleh 10 juta 54 orang yang baru lulus sekolah menengah keatas diseluruh pelosok Indonesia. Keadaan dimana kita mulai merasa malu jika selalu minta uang ke orang tua, malu jika hanya berdiam diri dirumah, kemudian mulai membanding-bandingkan diri kita yang sekolah dengan mereka yang tidak sekolah tapi sukses, dan ini yang paling penting, mulai banyak orang yang membicarakan kita atas dasar nyinyir tidak jelas.
Kondisi semacam ini cukup wajar, karena sebagian besar kita, tidak betul-betul dipersiapkan untuk menghadapi masa peralihan dari dunia sekolah ke dunia yang real, yang butuh pemikiran realistis.
Yang saya rasakan adalah, kita mulai dihadapkan pada apa yang pernah kita cita-citakan dulu, sewaktu ditanya oleh guru bahasa indonesia, banyak jawaban yang terlontar dari pertanyaan tersebut, jawaban yang tanpa beban, tanpa pikiran yang realistis, ada yang mau jadi polisi, tentara, pilot, PNS, si solihan bahkan pernah menjawab ingin jadi bidan. Saya dulu pernah punya cita-cita ingin jadi arkeolog. Arkeolog atau arkeoloh ? Kata pidi baiq lebih baik arkeolog saja, karna jika arkeoloh, kita bilang piknik itu harus jadi pihnik. Saya ingin jadi arkeolog karena dulu sangat suka sekali terhadap pelajaran sejarah, semacam ada kepenasaranan yang luar biasa terhadap apa yang menjadi kisah atau cerita panjang yang mempengaruhi identitas dan personalitas kita sebagai manusia dimasa sekarang.


Ketika lulus sekolah, jawaban-jawaban tersebut bagi sebagian orang menjadi terdengar seperti fiksi belaka, karena realitanya, secara realistis kita tidak punya pilihan sama sekali karena beberapa keterbatasan. Mungkin dulu kita ataupun saya menganggap bahwa definisi cita-cita itu hanya semacam angan-angan saja, bebas di sebutkan yang penting keren.
Saya pernah diskusi santai dengan beberapa teman yang latar belakangnya hampir sama, disaat mereka sudah lama sekali lulus sekolah  mengenai apa itu cita-cita. Dan jawabannya memang menjadi seperti ini, cita-cita itu keinginan sukses yang bergantung pada situasi dan kondisi. Jadi bisa saja cita-cita itu berubah ubah sesuai dengan situasi dan kondisinya. Dan katanya, cita-cita itu akan terus meningkat seiring dengan keberhasilan cita-cita sebelumnya. Jadi mungkin bagi sebahagian orang, boleh jadi kita tidak betul-betul mampu untuk mewujudkan cita-cita sewaktu ditanya guru bahasa indonesia itu, tapi yakinlah ada banyak kesempatan, dari situasi dan kondisi yang akan mewujudkan cita-cita baru.
                Pemikiran kedua biasanya mulai mempertimbangkan untuk bekerja, atau menghasilkan uang daripada hanya sekedar diam dirumah dan mulai dicap pengangguran. Apalagi yang basicny sekolah kejuruan yang dipersiapkan untuk menjadi pegawai dengan dibekali keahlian sesuai jurusannya. Anda mungkin akan sedikit idealis karena merasa punya skill yang mumpuni, prestasi yang bagus apalagi lulusan SMK favorit.
Menentukan pekerjaan yang hanya sesuai dengan kriteria kita. Ini mungkin dipandang wajar disekolahan, tapi dek, ini sungguh kurang wajar di dunia kerja bagi kalian yang hanya lulusan SMK/SMA. Bagi sebagian orang, apalagi yang belum tau bagaimana ketatnya persaingan dunia kerja dengan segala dinamikanya termasuk keberadaan calo, khusus untuk calo ini akan saya tulis khusus nanti jika ingat.
Saya lebih menyarankan bahwa diawal karir kita dalam bekerja, tidak perlu menentukan pekerjaan yang sesuai dengan kriteria, apalagi di zaman sekarang yang persaingannya semakin sulit. Mendapat pekerjaan dan halal, itu sudah cukup untuk awal karir kita. Sebagai contoh saja bahwa saya anak jurusan komputer ketika sekolah, ketika awal bekerja masuk di perusahaan Otomotif, dibagian pembuatan velg motor. Ada hubungannya dengan Jurusan yang dipelajari selama 3 tahun ? Tidak.!
Dan mungkin keputusan paling konkrit, sebagai puncak dari batas ambang kita adalah pergi merantau. Bisa dimaklumi karena ketersediaan lapangan pekerjaan yang terbatas di daerah. Untuk anak yang baru kemarin merasakan di gendong, di cariin orang tua ketika magrib belum pulang, dimarahin ketika maen PS lupa waktu ngaji, tiba-tiba harus merantau jauh menentukan nasib sendiri. . Kita bisa bayangkan, ini adalah momen pertama berpisah dengan keluarga dalam waktu yang lebih lama dari biasanya, jarak dari kampung halaman yang lebih jauh dari biasanya, dan fikiran yang lebih berat dari biasanya. Bahkan saya pernah bingung bagaimana caranya nyuci diperantauan karena selama di kampung tidak pernah nyuci sendiri.
Semua ini pernah dirasakan dan mungkin akan dirasakan kembali oleh sebagian orang sebagai struktur dan proses pendewasaan dari kehidupan. Yang terpenting semoga ada hikmah yang selalu kita petik dari setiap batas, termasuk batas ambang ini.


Sabtu, 15 September 2018

Generasi Lapor



Saya sedang tidak habis pikir dengan orang-orang yang salah kaprah dalam menggunakan media sosial.Saya sampai menulis ini karna meskipun dunia maya itu tidak ada korelasinya dengan dunia nyata, tapi tetap dibutuhkan kebijakan dalam menggunakannya.
       Ada satu pertanyaan cukup sinis dari dosen saya, “kalian yg setiap hari lapor ke facebook, apakah facebook pernah memberikan solusi konkrit atas permasalahan kalian?”.Pertanyaan yang rasanya memang sangat cocok dengan kebiasaan kids jaman now, baca: anak jaman sekarang. Kebiasaan dimana segala sesuatu yang terjadi, mau senang atau sedih, hal umum atau privasi, hal buruk sampai hal-hal sepele pun tak luput dilaporkan di media.
       Kebudayaan lapor inilah yang sedang terjadi, bahkan menjadi penyakit yang sangat akut di negara kesatuan republik sosmed.Tua muda sama saja, dikit dikit lapor, tak lapor maka tak gaul.
Tapi coba anda bayangkan, jika masalah pribadi yang bersipat privasi atau hal-hal yang sama sekali tidak penting itu di publikasikan, di lihat semua orang, bahkan di bagikan, “duh anjing si eta teu sopan pisan, abong runtah jarian hayang guyang getih mreun jeung aing” atau “mikir atuh euy urang mah boga warung ge meunang peurih, teu cara maneh kawin ge nginyeum heula ka BRI “, status seperti ini substansinya untuk apa coba?! Kenapa juga harus bahas kawin hah?Apakah medsos memberikan solusi jitu ? Tidak.!


       Atau ada orang yang ditimpa musibah, cobaan, kemudian meratap mengeluh dan memohon maaf, “Ema, Bapa hapuntn abdi tina ksalahan abdi...”, kemudian berdoa kepada Alloh atas musibah yang terjadi dengan doa yang panjang dan penuh haru.BUKAN saya melarang untuk berdoa, tapi aduh dek,(emot syedih) kalau kamu keukeuh pengen berdoa, berdoalah di waktu-waktu terbaik, setelah solat fardlu misalnya, antara adzan dan iqomah, di sepertiga malam dan di waktu-waktu baik lainnya, cukuplah kita dan Tuhan yang tau ratapan2 sakral penuh khusyu' tersebut, jangan berdoa di Facebook.
       Saya membuat tulisan ini bukan berarti saya melarang untuk bermedia sosial, tapi coba tengoklah arti dari moralitas itu apa, supaya kita bisa lebih bijak dalam menggunakn media sosial.

MICEUN JIN KE MEIKARTA



Rabu 04 Oktober 2017, setelah pembahasan materi konsep teknologi yang cukup rumit sekaligus dituntut untuk selalu uptodate.uptudate or uptodate ? I didn't remember.hehe yang jelas dosen saya menyinggung soal meikarta yang memang sedang menjadi perbincangan hangat dengan promosinya yang sangat gencar dan besar-besaran baik di media cetak atau portal-portal online.
Dari pembahasan itu saya jadi ingat apa yang pernah disampaikan oleh guru seni budaya saya sewaktu di SMK, he said that "Di dunia ini, orang yang tidaak bisa diatur itu ada 4, Orang kaya, Seniman, Wartawan dan terakhir Orang gila.'' Yang ingin saya singgung adalah propesi wartawan, kenapa mereka sampai termasuk orang yg tidak bisa diatur ? Dalam dunia wartawan, selain kita mengenal undang-undang kebebasan pers, ada juga yang disebut dengan istilah ''Firewall",yaitu istilah dimana seseorang yang ingin mngiklankan suatu produk, orang yang punya dana  atau penyandang dana, atau siapapun yang punya kepentingan dengan dengan wartawan, tidak berhak untuk mengatur, mengarahkan  atau menyuruh seorang wartawan dalam menjalankan tugasnya.Karna wartawan dalah propesi yang merdeka, dia tidak berhak diatur oleh segelintir kepentingan, dan dia tidak berhak memihak pada suatu golongan kecuali memihak pada kebenaran.


    Melihat penomena Meikarta, sangat ironis bagaimana seorang wartawan kehilangan ''firewall''nya dalam bertugas karna mungkin kucuran dana yang begitu melimpah dari lippo group sebagai perusahaan pengembang projek tersebut.Kita bisa melihat indikasi tersebut dari banyaknya iklan Meikarta di media massa dan televisi tanah air yang begitu dahsyat, padahal mereka tahu bahwa proyek tersebut masih bermasalah dalam hal perizinan dari pemprov jabar.Mereka mengiklankan sesuatu yang masih dianggap ilegal oleh pemerintah.
Dan menyinggung soal iklan meikararta di Teleisi yang cukup diskriminatif menurut saya, bagaimana digambarkan seorang anak yang dihadapkan dengan hiruk pikuknya sebuah kota, macet, polusi dan ancaman kejahatan.Kemudian setelah keluar terowongan maasuklah dia disuatu kota yang tertata, rapi dan semuanya terintegrasi dengan sempurna.seakan akan lippo mengajak, mari tinggalkan kota yang lama, yang banyak polusi, kejahatan dan sumpek...di Meikarta bersih tertata dan tidak ada kejahatan.

BURUH : Tidak manusiawi

Sebagaimana yang pernah aku tuliskan, bahwa karawang yang sekarang tidak bisa kita lepaskan dari yang namaya kota industri.Industri apapun ada di kota ini...konsekuensi dari sebuah kota industri adalah banyaknya buruh atau pekerja yang menghuni tempat ini.maafkan aku karawang, aku juga ikut menghunimu...
Berawal dari info yang tidak penting, ketika aku pulang kerja di sekitar jalan kosambi, aku melihat para buruh dari salah satu serikat di karawang, berdemo memadati jalan, sebagian berjalan membentangkan spanduk, sebagian mengendarai mobil dengan bak terbuka lengkap dengan speaker, soundsystem dan orasi mengobarkan semangat untuk meminta naik gaji.
Sebagai informasi saja, bahwa demo-demo seperti ini sudah rutin dilakukan setiap menjelang akhir tahun, sejak malin kundang belum  dikutuk atau sejak kapan aku tidak tau...yang jelas ini acara rutinnya mereka, sungguh.
Demo itu diperbolehkan ?! iya aku tau...tauk dek. Yang membuat aku merasa bahwa kalian tidak manusiawi itu kenapa setiap tahun harus selalu menuntut untuk naik gaji ? seakan-akan kalian romusha yang di pekerjakan jepang lebih dari batas kemampuan, tanpa diberi makan apalagi upah.Atau seperti kerja Rodi dizaman belanda, bekerja siang dan malam tanpa henti plus siksaan yang kejam dari si meenir, meninggal di tempat kerja adalah hal biasa karna waktu itu belum ada jamsostek apalagi BPJS kesehatan.
Kalau tidak mau kubilang mahluk kurang bersyukur, kalian adalah makhluk yang tamak ! sama saja kan ? iya !!! Fasilitas yang kalian terima itu besar, mulai dari gaji yang tinggi, bahkan tertinggi di indonesia, makan di kasih, sarapan disiapkan, berangkat dijemput, pulang diantar, kesehatan dijamin, kerja normal 8 jam, nambah jam kerja dianggap lembur dan itu dibayar duakali lipat. Aku tau karna aku juga buruh pabrik. Lalu apa lagi ? dengan fasilitas yang se ‘megah’ itu kalian masih turun ke jalan, merengek ke pemerintah seakan kalian sedang terdzolimi  dan dengan dalih upah murah, padahal aku tau kalian sudah mampu beli perum dan nyicil mobil. Apakah pantas ?
Gini deh, kalau kalian keukeuh pengen gaji gede tanpa batasan, keluar pabrik, terus bikin pabrik sendiri.Coba deh lihat profesi lain, guru, nelayan, tukang ojeg, penghasilannya tak sebesar dan semegah kalian...
Karawang itu luas, profesi guru, nelayan, tukang ojeg ada di karawang. Dan kalian harus lihat kenyataan itu...

BUKAN PERTANYAAN

PERTANYAAN YANG TIDAK INSFIRATIF

Saya selalu berfikir bahwa secara umum kita sebagai manusia diciptakan dalam kapasitas yang sama dan kesempatan yang sama. Kita dibekali alat yang sama untuk berfikir yaitu otak, dan kesempatan yang sama dengan diberi waktu 24 jam perhari. Saya tidaak pernah mendengar bahwa einstein atau nicolas tesla yang cerdas itu diberi waktu 32 jam perhari, mereka sama seharinya 24 jam seperti kita.
Dalam segi waktu atau kesempatan memang kita diberi kesempatan yang sama. Tapi akhir-akhir ini saya berfikir apakah kita juga diberi kapasitas yang sama ? Karna saya perhatikan dalam penerimaan sebuah pelajaran misalnya, ada orang yang cepat memahami maatematika, ada yang tidak, ada yang cepat memahami rumus, ada yang tidak.Ada yang cepat hafalannya, ada yang tidak, bahkan ada yang tidak cepat sama sekali dalam pelajaran apapun.
Dari kasus diatas timbul-lah pertanyaan saya, apakah kecerdasan itu di bentuk atau dilahirkan ? jika dilahirkan mungkin cukup hanya sekedar mengasahnya, jika dibentuk, metode apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan kecerdasan tersebut ?
Pertanyaan ini timbul dari diri mereka yang merasa sangat lemah dalam memahami matematika, logika dan rumus. Mereka tidak pernah mendapatkan pelajarannya kecuali minder.Apakah kecerdasan matematika itu harus dilahirkan ? tidak bisa hanya sekedar di bentuk ?atau dihapalkan? Kemudian lupa lagi ? Karna tidak mungkin dilahirkan lagi, Apakah ada cara membentuk otak menjadi cerdas secara cepat, instan dan konsisten ?