Berbicara pemuda, maka kita berbicara tentang masa depan, itulah sepenggalan kalimat yang saya baca di baligo besar, terpampang jelas di samping jalan lampu merah klari. Atau tsubbanulyaum, rijalulgod, pemuda dihari ini adalah pemimpin dihari esok, kalimat yang selalu terdengar disetiap pembukaan acara pemuda. Atau kalimat-kalimat lain yang melegitimasi bahwa pemuda dan harapan masa depan punya relasi yang sangat kuat.
Terlepas dari itu, jauh disana, khususnya para remaja di cicadas, punya satu organisasi kepemudaan berbasis spiritual keagamaan yang dinamakan IRMAS. Satu organisasi yang menaungi para remaja baik pelajar ataupun yang sudah lulus sekolah. Punya struktur yang lengkap dari dewan pembina sampai seksi-seksi dari mulai keuangan sampai kerohanian.
Namun ada hal yang ingin saya sampaikan tidak lebih hanya sebagai opini saja, bahwa kita semua sepakat organisasi sebagai penampung dari pribadi dengan potensi yang berbeda-beda, butuh persamaan persepsi yang jelas mengenai tujuan organisasi. Jika saya sembarang bertanya misalnya, memangnya tujuan Irmas itu apa ? kewajiban detail anggota irmas itu apa ? Atau seberapa kuat irmas menyatukan anggotanya ? Tapi tentu saya tidak berani mempertanyakan itu.
Baru-baru ini ada kejadian yang menurut saya ada korelasinya dengan itu semua. Ketika ada seorang yang memposting di grup IRMAS tentang anggota irmas lain yang sedang mengumumkan pembuatan KTA dan seragam organisasi diluar irmas.Mengesankan dia bangga atau serius terhadap organisasinya daripada irmas. Nah mungkin pertanyaannya, kenapa sampai bisa seperti itu, ada apa dengan orang tersebut? Atau mungkin ada apa dengan irmas sendiri ?
Point pertama dari opini saya, digenerasi sekarang, digenerasi saya khususnya, kita semua adalah irmas turunan. Mengapa begitu? Karena hukumnya adalah irmas ketika seorang anak dilahirkan di cicadas, atau yang memilih tinggal tetap dicicadas. Kita tidak pernah memilih atau berbai’at secara penuh kesadaran, menyadari dengan penuh kebanggan akan masuk sebagai anggota irmas, sebagaimana orang-orang menentukan pilihan dengan mantap untuk masuk TNI misalnya, sehingga timbul kebanggaan ketika benar-benar masuk sebagai anggotanya. Makanya saya sangat heran ketika suatu waktu mendapati anak irmas marah-marah di facebook, dan menyatakan keluar dari irmas, padahal kapan dia masuk secara resmi sebagai anggota?
Kedua, susahnya membuat suatu kegiatan berkala yang bisa mempersatukan seluruh anggota irmas, anda pasti setuju bahwa pangkal dari kemajuan adalah kebersamaan. Kita selalu berbicara demi kemajuan bersama, tetapi point-point kebersamaan itu tidak pernah terjalin satu sama lain. Contoh kecilnya seperti ini, ketika anda suka volly misalkan, anda jadi sentimen kepada yang tidak suka volly, dan seakan indikasi kemajuan irmas hanyalah volly, yang lain anti kemajuan. Jadi saya ingin menyadari itu sebagai point dasar pendorong kebersamaan. Bukan saya anti volly.
Yang ketiga, kita ini sebetulnya terpisah, terpisah oleh persepsi masing-masing. Yang satu merasa bahwa irmas ini terlalu kecil, andaikan irmas ini peci, peci ini gak muat dikepalanya. Dia merasa dirinya lebih besar dari sekedar irmas. Yang kedua merasa irmas ini terlalu besar, terlalu suci dengan adab, tatakrama, dan semua aturannya, sehingga memposisikan dirinya terlalu kotor untuk bergabung dalam koridor kesucian irmas.
Sekali lagi ini hanya opini yang jauh dari kata pantas. Jadi anggap saja saya sedang bermaksud beropini, tapi belum jadi opini. Seperti orang yang bermaksud menulis, tapi belum jadi tulisan.
15 Agustus 2018.
Jumat, 07 September 2018
IRMAS : dan egoisme pemuda
Artikel Terkait
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
EmoticonEmoticon