Sabtu, 15 September 2018

Generasi Lapor

Tags


Saya sedang tidak habis pikir dengan orang-orang yang salah kaprah dalam menggunakan media sosial.Saya sampai menulis ini karna meskipun dunia maya itu tidak ada korelasinya dengan dunia nyata, tapi tetap dibutuhkan kebijakan dalam menggunakannya.
       Ada satu pertanyaan cukup sinis dari dosen saya, “kalian yg setiap hari lapor ke facebook, apakah facebook pernah memberikan solusi konkrit atas permasalahan kalian?”.Pertanyaan yang rasanya memang sangat cocok dengan kebiasaan kids jaman now, baca: anak jaman sekarang. Kebiasaan dimana segala sesuatu yang terjadi, mau senang atau sedih, hal umum atau privasi, hal buruk sampai hal-hal sepele pun tak luput dilaporkan di media.
       Kebudayaan lapor inilah yang sedang terjadi, bahkan menjadi penyakit yang sangat akut di negara kesatuan republik sosmed.Tua muda sama saja, dikit dikit lapor, tak lapor maka tak gaul.
Tapi coba anda bayangkan, jika masalah pribadi yang bersipat privasi atau hal-hal yang sama sekali tidak penting itu di publikasikan, di lihat semua orang, bahkan di bagikan, “duh anjing si eta teu sopan pisan, abong runtah jarian hayang guyang getih mreun jeung aing” atau “mikir atuh euy urang mah boga warung ge meunang peurih, teu cara maneh kawin ge nginyeum heula ka BRI “, status seperti ini substansinya untuk apa coba?! Kenapa juga harus bahas kawin hah?Apakah medsos memberikan solusi jitu ? Tidak.!


       Atau ada orang yang ditimpa musibah, cobaan, kemudian meratap mengeluh dan memohon maaf, “Ema, Bapa hapuntn abdi tina ksalahan abdi...”, kemudian berdoa kepada Alloh atas musibah yang terjadi dengan doa yang panjang dan penuh haru.BUKAN saya melarang untuk berdoa, tapi aduh dek,(emot syedih) kalau kamu keukeuh pengen berdoa, berdoalah di waktu-waktu terbaik, setelah solat fardlu misalnya, antara adzan dan iqomah, di sepertiga malam dan di waktu-waktu baik lainnya, cukuplah kita dan Tuhan yang tau ratapan2 sakral penuh khusyu' tersebut, jangan berdoa di Facebook.
       Saya membuat tulisan ini bukan berarti saya melarang untuk bermedia sosial, tapi coba tengoklah arti dari moralitas itu apa, supaya kita bisa lebih bijak dalam menggunakn media sosial.

MICEUN JIN KE MEIKARTA

Tags


Rabu 04 Oktober 2017, setelah pembahasan materi konsep teknologi yang cukup rumit sekaligus dituntut untuk selalu uptodate.uptudate or uptodate ? I didn't remember.hehe yang jelas dosen saya menyinggung soal meikarta yang memang sedang menjadi perbincangan hangat dengan promosinya yang sangat gencar dan besar-besaran baik di media cetak atau portal-portal online.
Dari pembahasan itu saya jadi ingat apa yang pernah disampaikan oleh guru seni budaya saya sewaktu di SMK, he said that "Di dunia ini, orang yang tidaak bisa diatur itu ada 4, Orang kaya, Seniman, Wartawan dan terakhir Orang gila.'' Yang ingin saya singgung adalah propesi wartawan, kenapa mereka sampai termasuk orang yg tidak bisa diatur ? Dalam dunia wartawan, selain kita mengenal undang-undang kebebasan pers, ada juga yang disebut dengan istilah ''Firewall",yaitu istilah dimana seseorang yang ingin mngiklankan suatu produk, orang yang punya dana  atau penyandang dana, atau siapapun yang punya kepentingan dengan dengan wartawan, tidak berhak untuk mengatur, mengarahkan  atau menyuruh seorang wartawan dalam menjalankan tugasnya.Karna wartawan dalah propesi yang merdeka, dia tidak berhak diatur oleh segelintir kepentingan, dan dia tidak berhak memihak pada suatu golongan kecuali memihak pada kebenaran.


    Melihat penomena Meikarta, sangat ironis bagaimana seorang wartawan kehilangan ''firewall''nya dalam bertugas karna mungkin kucuran dana yang begitu melimpah dari lippo group sebagai perusahaan pengembang projek tersebut.Kita bisa melihat indikasi tersebut dari banyaknya iklan Meikarta di media massa dan televisi tanah air yang begitu dahsyat, padahal mereka tahu bahwa proyek tersebut masih bermasalah dalam hal perizinan dari pemprov jabar.Mereka mengiklankan sesuatu yang masih dianggap ilegal oleh pemerintah.
Dan menyinggung soal iklan meikararta di Teleisi yang cukup diskriminatif menurut saya, bagaimana digambarkan seorang anak yang dihadapkan dengan hiruk pikuknya sebuah kota, macet, polusi dan ancaman kejahatan.Kemudian setelah keluar terowongan maasuklah dia disuatu kota yang tertata, rapi dan semuanya terintegrasi dengan sempurna.seakan akan lippo mengajak, mari tinggalkan kota yang lama, yang banyak polusi, kejahatan dan sumpek...di Meikarta bersih tertata dan tidak ada kejahatan.

BURUH : Tidak manusiawi

Tags
Sebagaimana yang pernah aku tuliskan, bahwa karawang yang sekarang tidak bisa kita lepaskan dari yang namaya kota industri.Industri apapun ada di kota ini...konsekuensi dari sebuah kota industri adalah banyaknya buruh atau pekerja yang menghuni tempat ini.maafkan aku karawang, aku juga ikut menghunimu...
Berawal dari info yang tidak penting, ketika aku pulang kerja di sekitar jalan kosambi, aku melihat para buruh dari salah satu serikat di karawang, berdemo memadati jalan, sebagian berjalan membentangkan spanduk, sebagian mengendarai mobil dengan bak terbuka lengkap dengan speaker, soundsystem dan orasi mengobarkan semangat untuk meminta naik gaji.
Sebagai informasi saja, bahwa demo-demo seperti ini sudah rutin dilakukan setiap menjelang akhir tahun, sejak malin kundang belum  dikutuk atau sejak kapan aku tidak tau...yang jelas ini acara rutinnya mereka, sungguh.
Demo itu diperbolehkan ?! iya aku tau...tauk dek. Yang membuat aku merasa bahwa kalian tidak manusiawi itu kenapa setiap tahun harus selalu menuntut untuk naik gaji ? seakan-akan kalian romusha yang di pekerjakan jepang lebih dari batas kemampuan, tanpa diberi makan apalagi upah.Atau seperti kerja Rodi dizaman belanda, bekerja siang dan malam tanpa henti plus siksaan yang kejam dari si meenir, meninggal di tempat kerja adalah hal biasa karna waktu itu belum ada jamsostek apalagi BPJS kesehatan.
Kalau tidak mau kubilang mahluk kurang bersyukur, kalian adalah makhluk yang tamak ! sama saja kan ? iya !!! Fasilitas yang kalian terima itu besar, mulai dari gaji yang tinggi, bahkan tertinggi di indonesia, makan di kasih, sarapan disiapkan, berangkat dijemput, pulang diantar, kesehatan dijamin, kerja normal 8 jam, nambah jam kerja dianggap lembur dan itu dibayar duakali lipat. Aku tau karna aku juga buruh pabrik. Lalu apa lagi ? dengan fasilitas yang se ‘megah’ itu kalian masih turun ke jalan, merengek ke pemerintah seakan kalian sedang terdzolimi  dan dengan dalih upah murah, padahal aku tau kalian sudah mampu beli perum dan nyicil mobil. Apakah pantas ?
Gini deh, kalau kalian keukeuh pengen gaji gede tanpa batasan, keluar pabrik, terus bikin pabrik sendiri.Coba deh lihat profesi lain, guru, nelayan, tukang ojeg, penghasilannya tak sebesar dan semegah kalian...
Karawang itu luas, profesi guru, nelayan, tukang ojeg ada di karawang. Dan kalian harus lihat kenyataan itu...

BUKAN PERTANYAAN

Tags
PERTANYAAN YANG TIDAK INSFIRATIF

Saya selalu berfikir bahwa secara umum kita sebagai manusia diciptakan dalam kapasitas yang sama dan kesempatan yang sama. Kita dibekali alat yang sama untuk berfikir yaitu otak, dan kesempatan yang sama dengan diberi waktu 24 jam perhari. Saya tidaak pernah mendengar bahwa einstein atau nicolas tesla yang cerdas itu diberi waktu 32 jam perhari, mereka sama seharinya 24 jam seperti kita.
Dalam segi waktu atau kesempatan memang kita diberi kesempatan yang sama. Tapi akhir-akhir ini saya berfikir apakah kita juga diberi kapasitas yang sama ? Karna saya perhatikan dalam penerimaan sebuah pelajaran misalnya, ada orang yang cepat memahami maatematika, ada yang tidak, ada yang cepat memahami rumus, ada yang tidak.Ada yang cepat hafalannya, ada yang tidak, bahkan ada yang tidak cepat sama sekali dalam pelajaran apapun.
Dari kasus diatas timbul-lah pertanyaan saya, apakah kecerdasan itu di bentuk atau dilahirkan ? jika dilahirkan mungkin cukup hanya sekedar mengasahnya, jika dibentuk, metode apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan kecerdasan tersebut ?
Pertanyaan ini timbul dari diri mereka yang merasa sangat lemah dalam memahami matematika, logika dan rumus. Mereka tidak pernah mendapatkan pelajarannya kecuali minder.Apakah kecerdasan matematika itu harus dilahirkan ? tidak bisa hanya sekedar di bentuk ?atau dihapalkan? Kemudian lupa lagi ? Karna tidak mungkin dilahirkan lagi, Apakah ada cara membentuk otak menjadi cerdas secara cepat, instan dan konsisten ?

Jumat, 07 September 2018

IRMAS : dan egoisme pemuda

Tags

      Berbicara pemuda, maka kita berbicara tentang masa depan, itulah sepenggalan kalimat yang saya baca di baligo besar, terpampang jelas di samping jalan lampu merah klari. Atau tsubbanulyaum, rijalulgod, pemuda dihari ini adalah pemimpin dihari esok, kalimat yang selalu terdengar disetiap pembukaan acara pemuda. Atau kalimat-kalimat lain yang melegitimasi bahwa pemuda dan harapan masa depan punya relasi yang sangat kuat.
      Terlepas dari itu, jauh disana, khususnya para remaja di cicadas, punya satu organisasi kepemudaan berbasis spiritual keagamaan yang dinamakan IRMAS. Satu organisasi yang menaungi para remaja baik pelajar ataupun yang sudah lulus sekolah. Punya struktur yang lengkap dari dewan pembina sampai seksi-seksi dari mulai keuangan sampai kerohanian.
        Namun ada hal yang ingin saya sampaikan tidak lebih hanya sebagai opini saja, bahwa kita semua sepakat organisasi sebagai penampung dari pribadi dengan potensi yang berbeda-beda, butuh persamaan persepsi yang jelas mengenai tujuan organisasi. Jika saya sembarang bertanya misalnya, memangnya tujuan Irmas itu apa ? kewajiban detail anggota irmas itu apa ? Atau seberapa kuat irmas menyatukan anggotanya ? Tapi tentu saya tidak berani mempertanyakan itu.
Baru-baru ini ada kejadian yang menurut saya ada korelasinya dengan itu semua. Ketika ada seorang yang memposting di grup IRMAS tentang anggota irmas lain  yang sedang mengumumkan pembuatan KTA dan seragam organisasi diluar irmas.Mengesankan dia bangga atau serius terhadap organisasinya daripada irmas. Nah mungkin pertanyaannya, kenapa sampai bisa seperti itu, ada apa dengan  orang tersebut? Atau mungkin ada apa dengan irmas sendiri ?
       Point pertama dari opini saya, digenerasi sekarang, digenerasi saya khususnya, kita semua adalah irmas turunan. Mengapa begitu? Karena hukumnya adalah irmas ketika seorang anak dilahirkan di cicadas, atau yang memilih tinggal tetap dicicadas. Kita tidak pernah memilih atau berbai’at secara penuh kesadaran, menyadari dengan penuh kebanggan akan masuk sebagai anggota irmas, sebagaimana orang-orang menentukan pilihan dengan mantap untuk masuk TNI misalnya, sehingga timbul kebanggaan ketika benar-benar masuk sebagai anggotanya. Makanya saya sangat heran ketika suatu waktu mendapati anak irmas marah-marah di facebook, dan menyatakan keluar dari irmas, padahal kapan dia masuk secara resmi sebagai anggota?
       Kedua, susahnya membuat suatu kegiatan berkala yang bisa mempersatukan seluruh anggota irmas, anda pasti setuju bahwa pangkal dari kemajuan adalah kebersamaan. Kita selalu berbicara demi kemajuan bersama, tetapi point-point kebersamaan itu tidak pernah terjalin satu sama lain. Contoh kecilnya seperti ini, ketika anda suka volly misalkan, anda jadi sentimen kepada yang tidak suka volly, dan seakan indikasi kemajuan irmas hanyalah volly, yang lain anti kemajuan. Jadi saya ingin menyadari itu sebagai point dasar pendorong kebersamaan. Bukan saya anti volly.
       Yang ketiga, kita ini sebetulnya terpisah, terpisah oleh persepsi masing-masing. Yang satu merasa bahwa irmas ini terlalu kecil, andaikan irmas ini peci, peci ini gak muat dikepalanya. Dia merasa dirinya lebih besar dari sekedar irmas. Yang kedua merasa irmas ini terlalu besar, terlalu suci dengan adab, tatakrama, dan semua aturannya, sehingga memposisikan  dirinya terlalu kotor untuk bergabung dalam koridor kesucian irmas.
      Sekali lagi ini hanya opini yang jauh dari kata pantas. Jadi anggap saja saya sedang bermaksud beropini, tapi belum jadi opini. Seperti orang yang bermaksud menulis, tapi belum jadi tulisan.

15 Agustus 2018.

Kamis, 06 September 2018

perang tagar

Tags
PERANG TAGAR

Mendekati penghujung tahun 2018, ada banyak sekali kejadian yang membuat masyarakat semakin terpecah belah, diantara yang paling terasa adalah pemilihan presiden tahun 2019, yang sebetulnya masih jauh menurut Mang Momod, pengamat jebolan warung kopi Bi Uken, tapi mungkin dekat dari kacamata politik. Di media sosial kita diramaikan dengan tagar #2019gantipresiden,kemudian muncul tagar tandingan #2019tetapjokowi.
Tidak peduli yang diposting apa, komentarnya #2019gantipresiden,  atau #2019tetapjokowi. Dua tagar yang sbetulnya mewakili kubu pemerintah dan oposisi. Pertanyaannya apakah dua tagar tersebut benar-benar mewakili rakyat, atau hanya mewakili segelintir elite yang berkepntingan ? Karena yang terjadi dilapangan, jika anda perhatikan kejadian  tersebut hanya memicu polarisasi diantara masyarakat, yang berujung pada terancamnya persatuan indonesia secara keseluruhan.
Anda mungkin pernah mendengar ada orang yang bertikai gara-gara membela pemerintah, tidak mau belanja di warung si A gara-gara pro pemerintah, debat kusir di facebook sampai membawa pasukan hewan dari kebun binatang gara-gara tagar #2019gantipresiden. Atau pada penghadangan-penghadangan dibeberapa daerah.
Perpecahan yang sudah pada tingkat yang menghawatirkan. Karena idealnya mungkin begini, ketika pemerintah berlaku adil maka kita dukung sepenuhnya, ketika berlaku dzolim kita kritik kesalahannya. Bukan karena kita oposisi, segala kebijakan pemerintah meskipun faktanya memang benar, tetap kita anggap salah, seakan di jidat pemerintah itu cuma ada kata salah. Bukan pula karena kita pro pemerintah, segala kebijakannya meskipun nampak salah, kita benarkan dan dibela habis-habisan. Jadi terkesan oposisi cenderung nyinyir, dan pro pemerintah cenderung menjilat.
Merinding jika membayangkan kejadian seperti ini terus berlanjut, mengingat juga negara kita tidak punya estapet kepemimpinan yang baik dalam pemerintahan. Bagaimana? Sudah merinding? Merindinglah kalian, mengerutlah jiwa kalian, jangan tidak merinding !