Kamis, 06 Desember 2018

Batas Ambang

Tags
Setiap orang pasti pernah merasakan apa yang disebut batas ambang, masa peralihan atau situasi dimana seseorang merasa bingung terhadap langkah yang harus ditempuh, seperti halnya saya ketika baru lulus sekolah, atau mungkin dirasakan oleh 10 juta 54 orang yang baru lulus sekolah menengah keatas diseluruh pelosok Indonesia. Keadaan dimana kita mulai merasa malu jika selalu minta uang ke orang tua, malu jika hanya berdiam diri dirumah, kemudian mulai membanding-bandingkan diri kita yang sekolah dengan mereka yang tidak sekolah tapi sukses, dan ini yang paling penting, mulai banyak orang yang membicarakan kita atas dasar nyinyir tidak jelas.
Kondisi semacam ini cukup wajar, karena sebagian besar kita, tidak betul-betul dipersiapkan untuk menghadapi masa peralihan dari dunia sekolah ke dunia yang real, yang butuh pemikiran realistis.
Yang saya rasakan adalah, kita mulai dihadapkan pada apa yang pernah kita cita-citakan dulu, sewaktu ditanya oleh guru bahasa indonesia, banyak jawaban yang terlontar dari pertanyaan tersebut, jawaban yang tanpa beban, tanpa pikiran yang realistis, ada yang mau jadi polisi, tentara, pilot, PNS, si solihan bahkan pernah menjawab ingin jadi bidan. Saya dulu pernah punya cita-cita ingin jadi arkeolog. Arkeolog atau arkeoloh ? Kata pidi baiq lebih baik arkeolog saja, karna jika arkeoloh, kita bilang piknik itu harus jadi pihnik. Saya ingin jadi arkeolog karena dulu sangat suka sekali terhadap pelajaran sejarah, semacam ada kepenasaranan yang luar biasa terhadap apa yang menjadi kisah atau cerita panjang yang mempengaruhi identitas dan personalitas kita sebagai manusia dimasa sekarang.


Ketika lulus sekolah, jawaban-jawaban tersebut bagi sebagian orang menjadi terdengar seperti fiksi belaka, karena realitanya, secara realistis kita tidak punya pilihan sama sekali karena beberapa keterbatasan. Mungkin dulu kita ataupun saya menganggap bahwa definisi cita-cita itu hanya semacam angan-angan saja, bebas di sebutkan yang penting keren.
Saya pernah diskusi santai dengan beberapa teman yang latar belakangnya hampir sama, disaat mereka sudah lama sekali lulus sekolah  mengenai apa itu cita-cita. Dan jawabannya memang menjadi seperti ini, cita-cita itu keinginan sukses yang bergantung pada situasi dan kondisi. Jadi bisa saja cita-cita itu berubah ubah sesuai dengan situasi dan kondisinya. Dan katanya, cita-cita itu akan terus meningkat seiring dengan keberhasilan cita-cita sebelumnya. Jadi mungkin bagi sebahagian orang, boleh jadi kita tidak betul-betul mampu untuk mewujudkan cita-cita sewaktu ditanya guru bahasa indonesia itu, tapi yakinlah ada banyak kesempatan, dari situasi dan kondisi yang akan mewujudkan cita-cita baru.
                Pemikiran kedua biasanya mulai mempertimbangkan untuk bekerja, atau menghasilkan uang daripada hanya sekedar diam dirumah dan mulai dicap pengangguran. Apalagi yang basicny sekolah kejuruan yang dipersiapkan untuk menjadi pegawai dengan dibekali keahlian sesuai jurusannya. Anda mungkin akan sedikit idealis karena merasa punya skill yang mumpuni, prestasi yang bagus apalagi lulusan SMK favorit.
Menentukan pekerjaan yang hanya sesuai dengan kriteria kita. Ini mungkin dipandang wajar disekolahan, tapi dek, ini sungguh kurang wajar di dunia kerja bagi kalian yang hanya lulusan SMK/SMA. Bagi sebagian orang, apalagi yang belum tau bagaimana ketatnya persaingan dunia kerja dengan segala dinamikanya termasuk keberadaan calo, khusus untuk calo ini akan saya tulis khusus nanti jika ingat.
Saya lebih menyarankan bahwa diawal karir kita dalam bekerja, tidak perlu menentukan pekerjaan yang sesuai dengan kriteria, apalagi di zaman sekarang yang persaingannya semakin sulit. Mendapat pekerjaan dan halal, itu sudah cukup untuk awal karir kita. Sebagai contoh saja bahwa saya anak jurusan komputer ketika sekolah, ketika awal bekerja masuk di perusahaan Otomotif, dibagian pembuatan velg motor. Ada hubungannya dengan Jurusan yang dipelajari selama 3 tahun ? Tidak.!
Dan mungkin keputusan paling konkrit, sebagai puncak dari batas ambang kita adalah pergi merantau. Bisa dimaklumi karena ketersediaan lapangan pekerjaan yang terbatas di daerah. Untuk anak yang baru kemarin merasakan di gendong, di cariin orang tua ketika magrib belum pulang, dimarahin ketika maen PS lupa waktu ngaji, tiba-tiba harus merantau jauh menentukan nasib sendiri. . Kita bisa bayangkan, ini adalah momen pertama berpisah dengan keluarga dalam waktu yang lebih lama dari biasanya, jarak dari kampung halaman yang lebih jauh dari biasanya, dan fikiran yang lebih berat dari biasanya. Bahkan saya pernah bingung bagaimana caranya nyuci diperantauan karena selama di kampung tidak pernah nyuci sendiri.
Semua ini pernah dirasakan dan mungkin akan dirasakan kembali oleh sebagian orang sebagai struktur dan proses pendewasaan dari kehidupan. Yang terpenting semoga ada hikmah yang selalu kita petik dari setiap batas, termasuk batas ambang ini.